Recent Posts

Kamis, 05 Desember 2013

Demokrasi Bukan Cara Islam

10 Muharam 1434 H, disubuh yang dingin, di Masjid Darussalam Kota Wisata, jamaah Masjid dihidangkan tausiah oleh seorang Dai keturunan tionghoa Felix Siauw, menguraikan kenapa dan bagaimana caranya umat Islam ini bangkit.
Mengawali tausiahnya , beliau katakana segala sesuatu ada pusatnya, manusia ada pusatnya yang disebut pusar, begitupun dunia inipun ada pusatnya, dunia ini bila ditinjau dari  sisi geografis dan dan konflik dunia hingga kini , terlihat jelas dunia ini berpusat di timur tengah, disanapun  banyak para nabi lahir , berjuang disana dan wafatpun  di sana , sebutlah sejumlah nabi dan termasuk Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad…lahir disana…
Perjalanan dunia, banyak tahapannya dan sejarah mencatat didunia ini pernah ada kekuatan  imperium Persia dari wilayah timur, sebuah kekuatan yang mencakup  wilayah sepanjang wilayah lebih dari 7 juta KM, dan dibagian barat ada imperium romawi yang menguasai 5 juta KM lebih…pada saat itu apalah artinya wilayah Arab? Wilayah yang terjajah sebagian oleh Romawi dan sebagian oleh Persia, dan pertempuran Persia dan Romawi pun berada di wilayah pusat dunia, yaitu wilayah Arab.
Bayangkan pada saat dua kekuatan itu sangat berkuasa, Muhammad Rasulullullah saat itu tidaklah bisa dikatakan sebagai kekuatan apa pun…tapi beliau SAW sudah mampu untuk mengirimkan surat kepada para adikuasa tersebut untuk diajak kepada Islam, bila mereka menganut Islam  maka akan selamat. Surat yang inti sebenarnya sebenarnya bukanlah surat sekedar ajakan tetapi cenderung surat itu adalah surat ancaman …surat yang dilakukan oleh sebuah daulah yang belum bisa dibilang apa tapi sudah memberikan ancaman kepada adikuasa , Apa rahasianya?
Rahasianya adalah, Islam itu harus ada 3 pilar pembangunan karakter, pilar tersebut adalah Kekuatan Pribadi, Kekuatan Masyarakat dan Kekuatan Daulah!
Pilar pertama , Kekuatan pribadi, umat muslim harus menjadikan islam hadir secara penuh di jiwanya, setiap melakukan apapun sejak dari masuk ke kamar kecil, makan, dan apapun aplikasi kehidupan dilakukan dengan cara Islam. Kumpulan pribadi pribadi ini berkumpul dalam masyarakat yang berjamaah, maka kekuatan jamaah itu pun muncul , jamaah ataupun bermasyarakat ini menjadi Pilar Kedua, karena Allah bersama dengan jamaah. Maka Allah berikan karunia , dan dimunculkanlah orang orang hebat dari Islam yang tentunya berasal juga dari jamaah yang kuat. Dengan jamaah dan masyarakat yang kuat maka akan terdorong keinginan jamaah tersebut untuk lebih tampil dan membentuk kekuatan daulah yang berdasarkan aturan syariah Islam, meninggikan kalimat Allah dan Islam, kekuatan daulah inilah yang menjadi Pilar Ketiga yang akan menjaga kepentingan Islam, dan sebaliknya Islam juga akan menjaga daulah. Beliau mensitir ucapan Usman Bin Affan bahwa kekuasaan dan Islam adalah dua sisi yang saling melengkapi, maka dengan kekuasaanlah dakwah Islam akan terjaga, dan dengan Islam juga Daulah terpelihara.
Beliau lanjutkan , Islam butuh kekuasaan, tapi untuk meraih kekuasaan , bukanlah seperti cara politik yang terjadi saat ini, arena politik saat ini adalah berkiblat dari politik Machiavelli, politik sebagai alat untuk meraih kekuasaan dengan segala cara, yang diterapkan seperti yang kita kenal sekarang yaitu Demokrasi , dan beliau katakana dengan tegas bahwa beliau tidak setuju dengan konsep demokrasi , asal demokrasi bukanlah dari Islam, dan bukan cara Islam , bagaimana demokrasi memutuskan dan menentukan yang benar kalau kebenaran itu berdasarkan suara terbanyak? , ketahuilah yang benar itu berasal dari Allah, dan bukan suara makhluk terbanyak. Saya tidak bersependapat dengan itu, walau kita sepakat  harus menerapkan ukhuwah bagi para kelompok yang mengambil jalan itu, bila ijtihad mereka itu  sepanjang ada Nash yang jelas yang mendasari,  kita harus bertoleransi, dan tetap membina ukhuwah dengan mereka, karena perpecahan umat jauh lebih buruk daripada persoalan penyimpangan syariah saat ini. (m)

Tulisan ini di ambil dari www.eramuslim.com

Antara Janji Ar-rahman Atau Ancaman Syeitan

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)
 Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra,  “Setan menjanjikanmu dengan kefakiran.”Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar dan tak mungkin dusta. Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut diindikasikan dengan beberapa keadaan.
Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan  menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup, menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan. Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi n bersabda,
إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُSesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezki dikarenakan dosa yang ia perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)
Jikalau pun seseorang mendapatkan rezki dengan kemaksiatan, keberkahan akan dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.
Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan ketaatan kepada Allah. Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70 tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa? Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu, peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,
Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)
Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi n, bahwa beliau bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“sesungguhn a Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)
Tanda ketiga bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan berbagi. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menelaskan firman Allah,
Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”
Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,                                                                                                                                                                                                اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)

Sedangkan malaikat satunya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)
Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Ar-Rahman? Adapun seorang mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,
Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. al-Baqarah: 268)
Wallahu a’lam bishawab. (Abu umar Abdillah)
Sumber, www.arrisalah.net

*Domba Kurus diganti Domba Gemuk*

#DOMBA KURUS DIGANTI DOMBA GEMUK# ^_^



Seorang lelaki menurunkan kambing yg telah dibelinya dari mobilnya. Tak dinyana, domba itu lepas dan lari. Iapun mengejar domba tersebut hingga masuk ke pondok anak-anak yatim.

Telah menjadi kebiasaan, seorang ibu yang mengurus anak-anak yatim di pondok itu tiap harinya menerima sumbangan dari org yg bersedekah untuk anak-anak yatim yg diasuhnya. Kadang berupa makanan atau sesuatu yang ditinggal di depan pintu. Para tetangga sudah biasa melakukannya.

Maka tatkala domba itu berada di pintu, ibu asuh itu keluar untuk melihat siapa yg bersedekah. ternyata ia dapatkan tetangganya yg biasa dipanggil dgn nama Abu Muhammad yg tampak kelelahan dan ngos2an. Langsung saja ibu itu berkata, “Semoga Allah menerima sedekah darimu wahai Abu Muhammad!” Ibu asuh itu mengira bahwa kambing itu disedekahkan.

Abu Muhammad tak berkutik, lalu dia katakan, “amiin, maaf kalau hanya domba kurus ini yg bs saya sedekahkan!” Laki-laki itu menengadahkan tangannya dan berdoa, “Ya Allah, terimalah sedekah itu dariku.”

Hari berikutnya, laki-laki itu keluar untuk membeli domba lagi. Ia dapatkan sebuah mobil yg membawa dua domba gemuk yg sedang berhenti. Ia pun bermaksud membeli salah satu domba yg lebih gemuk dari domba yg lari kemarin.

Ketika ia bertanya tentang harga, penjual domba itu berkata, “Ambil saja untukmu, tak usah membayar!” “Lho koq bisa”, tanyanya heran.

Penjual itu berkata, “Allah memberi rejeki kepadaku, dimana banyak kambing-kambing saya yg beranak. Saya sudah bernadzar, untuk menghadiahkan satu domba kepada pembeli pertama yg datang kepadaku. Maka domba ini sudah menjadi rejekimu.” ^_^




penerjemah:abu umar abdillah.